Tuesday, 19 March 2013

Rintik Hujan dan Kepingan Memori


Semua orang pasti pernah melihat hujan, pernah kehujanan, atau malah ujan-ujanan, seperti yang aku alami tadi sore sepulang dari kampus karena di perjalanan menuju kost tiba-tiba turun hujan dan akhirnya terpaksa ujan-ujanan karena tidak bawa jas ujan dan kalau mau neduh nanggung karena sudah hampi dekat dengan kostan. Hujan bisa membawa hal-hal yang baik dan juga bisa membawa hal-hal yang buruk bagi yang disinggahi oleh kedatangannya. 
Ketika daerah yang gersang, kering tandus laksana gurun sahara disinggahi oleh hujan, tanah kering di tempat tersebut merasa bahagia ketika sang hujan memercikkan airnya dari awan-awan hitam yang bergantungan di langit, mereka merasa dibuai sentuhan air hujan yang berjatuhan hingga merasuk ke dalam celah-celah bumi. 
Tapi kadangkala hujan juga mendatangkan hal yang tidak diinginkan manusia seperti banjir, ketika lingkungan sudah tidak dipedulikan oleh manusia, sampah-sampah berserakan dimana-mana, tanah-tanah sebagai penyerap air telah tertutupi oleh kerasnya campuran semen dan pasir yang menghalangi rintikan hujan menyentuh keperawanan tanah yang ada di bawahnya, dan juga rimbunnya tumbuhan sudah hilang dari atas tanah. Ketika hal itu terjadi tetesan-tetesan air hujan seperti tembakan-tembakan air yang mengerikan yang akan menenggelamkan daerah-daerah yang disinggahinya, banjir mengganggu arus kegiatan manusia yang ada di dalamnya. Oleh sebabnya kita harus peduli dengan lingkungan yang ada di sekitar kita, supaya ketika hujan datang menyentuh atap-atap rumah kita, kita menyambutnya dengan suka cita.
Hujan juga mempunyai kekuatan magis yang hebat, dia bisa memanggil memori-memori masa lalu yang tersimpan di otak kita. Seperti sekarang, aku merasakan memori-memori itu kembali lagi ketika tetesan hujan yang turun sedari sore hingga malam ini.  Memori berupa kepingan-kepingan cerita saat-saat terakhir biyung (panggilan untuk nenek dalam bahasa jawa di daerahku) melewati hari-hari terakhir di dunia ini. Masih tergambar jelas hari-hari terakhir di bulan desember 2012 biyung yang saat itu di rumah berdua dengan sepupuku shock, ketika melihat penyakit sepupuku kumat, sepupuku ini kaang suka kejang-kejang tiba-tiba. Beliau langsung kaget dan langsung jatuh sakit setelahnya. Mengingat usia beliau yang sudah melewati angka 70 tahun dan beliau orangnya pencemas. Selama tiga hari dirawat di rumah dan sakit yang diderita beliau tidak menunjukkan tanda-tanda membaik akhirnya Ibu serta Bapak saya memutuskan untuk membawa beliau ke rumah sakit di kecamatan sebelah tempat tinggalku persis. Hampir satu minggu disana keadaan beliau lumayan lebih baik dan akhirnya dokter mengijinkan beliau untuk dirawat di rumah dengan tetap mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. Dua hari setelahnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah meninggalkan hiruk-pikuk kota Jogja, meninggalkan berkas-berkas di komputer yang menunggu untuk dikerjakan, selama beberpa hari di rumah kondisi beliau masih belum benar-benar pulih, akhirnya saya harus kembali ke Joga lagi karena masih ada kegiatan perkuliahan (bersambung)

Bulan Kedua Semester Enam



Super, mungkin itu kata-kata yang melonjak-lonjak pengen keluar dari mulut saya ketika menghadapi rutinitas jadwal kuliah di semester enam ini, bagaimana tidak, di semester enam ini saya mengambil 20 SKS tapi jadwal kuliahnya itu dari hari senin sampai dengan sabtu, yah walaupun sehari cuma satu makul atau dua makul sih, tapi hal itu sebenernya malahan yang bikin kesel. Pengennya sih kuliahnya dipadetin di hari tertentu aja gitu, tapi sayangnya pas KRS kemarin emang pembagian kelas-kelasnya emang jadwalnya merata dari hari senin–sabtu. Yang paling parah malah hari sabtu kuliah dari jam 14.00-17.30.
Nyesek banget -____-
Bukannya gimana-gimana sih, tapi ketika satu minggu nggak full kuliah pengennya nyari kegiatan diluar kampus gitu, sekalipun dengan jadwal yang sekarang bisa sih, tapi jadwal kuliah yang sekarang itu jamnya di jam yang nanggung-nanggung gitu, jadi kalo misal pagi atau siang mau nyari kegiatan mesti pikirannya gak fokus. Oh iya, di kampus saya itu kuliahnya emang enam hari seminggu, nggak ada hari sabtu yang libur resmi kayak kampus lain kecuali “beruntung”di jadwal KRS nya ada hari yang libur., walaupun kecil kemungkinannya. Btw sejauh ini perkuliahan semester ini alhamdulillah lancar, walau kadang rasa malas itu terbit ketika dapet jadwal kuliah siang yang kebetulan cuacanya panas membara seperti akhir-akhir ini.
 
 
Copyright © Hello :)
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com